Rabu, 08 September 2010

Pelacur untukku

Maaf ibu, aku mencintai pelacur itu
Dia bukan wanita suci di matamu, entah di mata Tuhan
Setiap malam, rok pendeknya sedikit disingsingkan ke atas
Gincu merah menghiasi bibir tipisnya dan menambah kesan ranum untuk dikulum
Tersenyum genit dan berdesah menggigit ujung bibir
Jari-jarinya lentik lembut mengusap punggung tanganku yang biasa membubut
Tubuhnya indah, tidak semok menyolok
Tuhan menciptakannya serba simetris

Mungkin aku bukanlah yang pertama menyentuh tubuhnya
Tapi akulah satu-satunya yang bisa menyelami hatinya


Ibu, pelacur itu tidak lupa bersujud syukur kepada Tuhannya
Dia tidak menyesali kehidupannya
Hanya tanya yang selalu menemani hari-harinya
Dia selalu yakin, Tuhan punya rencana lain

Kombinasi sackdress putih simpel yang bermanik-manik etnik di bagian kerah berdiri
dan stiletto berwarna senada membuat jantungku berdebar minta dikeluarkan.
Dia sungguh ayu, Ibu
Dia yang akan kupersunting kelak
Dia yang akan tetap melacur
Melacur hanya untukku
Melayaniku dengan sepenuh hatinya
dan hanya berharap upah cinta dariku
Akan ku muliakan dia sebagai pelacurku



Maaf ibu, hari ini aku memohon restumu untuk melamarkan pelacur itu untukku

Tidak ada komentar:

Posting Komentar