Mungkin semua hampir membuatku lelah.
Entah aku bodoh atau semua indraku sudah terkunci semua, tapi si pemegang kendali di balik tempurung tengkorakku tak pernah menghapusmu.
Dia terpengaruh doktrin gunung bahagia darimu, yang sekejap kau letuskan dan menurunkan lavanya secara perlahan. Yang abunya menyuburkan tanah pertanian di sekitar sumber letusan dan membahagiakan petaninya.
Tapi aku lelah saat harus berlari menjauh dari lavamu, aku takut terbakar dan harus terkubur di bawah cairan panas yang seketika bisa mematangkan daging di sekujur tubuhku.
Tapi ketika kau tenang, kau indah, membuatku ingin mendakimu. Lagi-lagi hanya lelah sebelum mencapai puncak gunungmu.
Apa dirimu hanya bisa kunikmati secara kasat mata saja?
Dari jarak yang entah berapa jauh aku bisa melihatmu, tidak berani berusaha menapaki langkah pendakian. Takut tersesat arah dan ancaman letusannya.
Apa dirimu bisa menjadi ombak tenang yang berdebur?
Yang jika aku diam, kau menghampiri dan mengajak bermain-main.
Ketika kau pun harus pergi, kau pasti akan kembali lagi, perlahan dan pasti akan membelai lembut punggung kakiku. Membawakan aku oleh-oleh pecahan terumbu karang yang cantik.
Yang selalu menyuruh anginmu memanggil-manggil namaku jika aku pulang.
Yang membuatku merindu dan selalu merindumu yang menghadirkan keindahan dari terbit fajarmu sampai fajarmu harus terbit lagi.
Jum’at pagi, 15 Oktober 2010 di Jatinangor
Tidak ada komentar:
Posting Komentar